Camara Derie

Reads
5
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Family Track

Ocean Shack memiliki lima kamar tidur tamu yang nyaman. Semuanya ada di lantai dua. Diisi oleh tempat tidur ukuran queen size yang nyaman, sebuah lemari pakaian kayu, tempat tamu menyimpan pakaian dan barang-barang mereka. Jendela besar di kamar menghadap ke arah pemandangan Bo-Kaap yang menakjubkan. Namdi tidak terlalu banyak meletakkan barang di dalam kamar. Dekorasi kamar tidur sederhana namun elegan, dengan warna-warna netral dan tekstil berkualitas tinggi.

Kamar mandi sangat bersih dan modern. Dinding dan lantai dilapisi dengan ubin putih, menciptakan suasana yang segar dan rileks. Shower kaca, wastafel putih, dan toilet mengisi ruangan ini. Handuk putih bersih dan perlengkapan mandi telah disediakan. Zola menilai Namdi sangat sempurna dalam memberikan kenyamanan untuk tamu.

Sebelum turun ke lantai satu, Zola menyempatkan untuk mengirim satu pesan pada Joe. Mengabarkan dia sudah mendapatkan penginapan yang baik dan akan mulai berkeliling mencari keluarganya.

Satu hal yang lupa diberikan Shashi adalah alamat lengkap keluarganya. Dia hanya memberikan sebuah nama. Suhila Mokoena. Dalam catatan Shashi hanya tercantum distrik di mana dia tinggal.

\"Selamat pagi, Zola! Apa rencanamu hari ini?\" tanya Namdi sambil tersenyum.

Zola menjawab dengan antusias, \"Hari ini saya ingin menjelajahi Bo-Kaap dan berbicara dengan penduduk setempat. Saya berharap bisa menemukan informasi tentang keluarga saya.\"

Namdi mengangguk, \"Itu adalah rencana yang bagus, Zola. Bo-Kaap adalah komunitas yang ramah dan hangat. Saya yakin banyak orang yang bersedia membantu.\"

“Apa yang bersedia membantu?”

Zola tersedak begitu Alex meletakan tangan di bahunya. Untungnya gadis itu hanya sedang minum, bukan menelan makanan.

“Upss, sorry,” kata Alex sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Dia kemudian merapatkan sweater abu-abu yang dikenakannya dan menarik kursi di sebelah Zola.

Zola hanya menatap Alex tanpa ekspresi. Dia kembali menegak air putih yang tersisa di dalam mug. Tidak lama kemudian, seorang perempuan bergabung di meja makan, Nora.

“Selamat pagi, Nora,” sapa Alex yang hanya diangguki Nora. Perempuan itu juga mengangguk kepada Zola yang menatapnya.

Mau tidak mau Zola balas mengangguk. Ini kali pertama dia bertemu Nora. Salah seorang turis domestik yang menjadi tamu Namdi. Semalam dia hanya mendengar tentang perempuan itu melalui obrolan dengan Alex dan Mandla. Menurut pendapat Alex, Nora adalah seorang akuntan publik. Dia sedang berlibur sambil bekerja karena menurut Alex, dia tidak pernah melepaskan pandangannya dari layar laptop. Gadis itu berasal dari Johannesburg.

“Entah bagaimana dia menikmati liburannya, jika ponselnya selalu berdering setiap saat,” seloroh Alex ketika menceritakan Nora, meskipun Nora tidak pernah mengonfirmasi kebenaran profesinya pada siapapun.

Tidak lama kemudian seorang laki-laki berkepala botak ikut bergabung di meja makan. Dialah Mandla. Tamu laki-laki lainnya selain Alex. Dia tersenyum pada semua orang yang sudah duduk mengitari meja makan besar di dapur Namdi. Atmosfer yang dibawa oleh Mandla justru keceriaan. Hal itu bisa dirasakan seketika di meja makan.

Morning,” sapanya ramah. Senyumnya memberikan aura positif terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul, kita akan sarapan sebelum beraktivitas.” Namdi langsung menyiapkan hidangan sarapan. Dia terus bergerak di dapur, terutama dia bergerak dari dapur ke arah belakang tangga.

“Apa yang ada di sana?” tanya Zola pada Mandla.

Laki-laki besar itu melihat arah pandang Zola dan tersenyum. “Itu adalah tempat penyimpanan bahan makanan Namdi.”

Zola tampak terkejut mengetahui hal itu. “Aku sama sekali tak menduga itu tempat penyimpanan bahan makanan. Kupikir itu hanya semacam gudang untuk menyimpan sapu dan semacamnya.”

Mandla terkekeh mendengar kejujuran Zola. Dia menatap gadis yang duduk di sebelahnya itu dengan lembut. Tatapannya seperti seorang ayah pada anak gadisnya.

“Jangan salah. Bagi Namdi, persediaan bahan makanan dan stok masakan yang cukup merupakan salah satu bentuk kebahagiaan.”

“Tentu saja,” sambar Alex tanpa diminta. “Aku di sini sudah lebih lama darimu, Zola. Dan aku tidak pernah merasa kelaparan, meskipun sebenarnya aku akan lebih menyukai jika ada stok minuman keras di dalam sana.”

“Namdi adalah penganut Islam yang taat. Dan kami menghargai kepercayaannya.” Mandla menambahkan.

Pernyataan Mandla membuat Zola menyadari bahwa hanya dialah satu-satunya tamu yang beragama sama dengan Namdi. Itu membuat dia semakin merasa terikat dengan distrik Bo-Kaap yang memang mayoritas penduduknya beragama Islam.

“Dan meskipun di dalam sana tidak ada minuman keras seperti yang dibilang pria flamboyan kita, tempat penyimpanan itu bisa jadi adalah tempat terkuat di rumah ini,” jelas Mandla sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Sudah, jangan berisik. Ini masih pagi,” seru Namdi sambil menyiapkan hidangan di atas meja makan. Gerakannya lincah seakan memberi bukti, dialah penguasa wilayah itu.

Zola terdiam tak bersuara ketika perempuan itu bergerak dengan cepat. Dia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa melihat apa yang terhidang di atas meja. Ini pertama kalinya dia melihat banyak makanan siap hanya untuk sarapan.

Geniet die ontbyt[1].”

Tiga orang selain Zola langsung menyendokkan hidangan ke atas piring mereka, tepat setelah Namdi mempersilakan. Ragu Zola mengambil apa yang terdekat dari piringnya. Sesuatu yang tampak seperti pie dengan lapisan atas yang berwarna keemasan dan sedikit garing.

“Jadi, apa maksudmu dengan bersedia membantu?” Alex kembali melontarkan pertanyaannya yang membuat Zola tersedak.

Zola menelan makanannya sebelum menjawab. “Seperti yang sudah kuceritakan semalam. Aku sedang mencari keluargaku. Jadi, aku berencana untuk berkeliling dan bertanya pada warga sekitar sini. untuk mencari tahu.”

“Kenapa kau tidak ke balai kota saja?” cetus Nora yang membuat semua orang di meja makan menatapnya. Baru pertama kali ini tamu perempuan itu bersedia ikut dalam percakapan.

Namdi yang mendengar pertanyaan dari Nora menjawab, “Bo-Kaap hanyalah sebuah distrik di Cape Town, dan sebagai bagian dari kota tersebut, distrik ini tidak memiliki balai kota sendiri. Balai Kota Cape Town, yang merupakan pusat pemerintahan kota, terletak di pusat kota Cape Town, bukan di Bo-Kaap.”

Zola yang sempat semangat mendengar saran dari Nora karena menganggap itu saran menarik hanya mengangguk. Penjelasan dari Namdi juga masuk akal. Semangatnya yang sempat terpantik menyusut mendengar penjelasan itu.

“Kalau kau mau berkeliling, bolehkah kutemani?” tanya Alex.

Zola tak menjawab. Di hanya mengangkat sebelah alis matanya.

“Aku bukan hendak mengganggu pencarianmu. Tapi, siapa tahu aku bisa menemukan spot atau objek menarik selama berkeliling Bo-Kaap denganmu. Berkeliling sendirian rasanya membosankan.” Alex membentuk kotak dengan empat jari. Dua jari telunjuk dan dua ibu jari, posenya seperti orang yang mengambil gambar dengan kamera imajinasi.

Mendengar keinginan Alex, Zola tidak dapat menolak. Di satu sisi dia merasa cukup senang karena tidak perlu berkeliling sendirian.

“Atau kau bisa mulai dengan Museum Bo-Kaap. Kudengar museumnya menyimpan banyak catatan sejarah penting di Bo-kaap.”

Kembali meluncur saran dari mulut Nora yang masih asyik dengan serapannya tanpa memandang satupun dari tiga tamu lainnya. Sementara tiga orang lain dan Namdi yang berdiri di dekat kompor hanya menatap perempuan dengan mata cokelatnya yang besar itu.

“Aku berencana untuk ke Museum Bo-kaap hari ini. Kalau kau mau, kita bisa berangkat bersama.”

“Tentu,” jawab Alex bersemangat.

Tangan Nora berhenti. Dia mendongak dan menatap Alex. “Aku bukan mengajakmu.”

“Aku tahu.” Alex menyeringai jahil. “Tapi aku sudah bilang mau ikut dengan Zola. Jadi, kemanapun nona Zola pergi, aku tentu ada bersamamu.”

Mandla tertawa pelan mendengar jawaban Alex. Dia menatap Alex dan menggeleng-gelengkan kepala.

Namdi menepuk pundak Zola, membuat gadis itu menatapnya.

“Hari masih pagi, dan sudah banyak orang baik yang mau membantumu. Ma shaa Allah.”



[1] Nikmati sarapannya


Other Stories
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Download Titik & Koma